• Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik
  • Lampung Barat - Beguay Jejama Sai Betik


• Kamis, 09 September 2010 •°•°•°•°•°• • HomeGalleryBuku TamuKontakSearch »      

blue_marlin.jpg


Produk Hukum
Lampung Barat

beguayMajalah Beguay Jejama

Repong Damar


Home

Krisis Energi, kebijakan nasional dan spekulan
-    Pada acara Republik BBM (sebuah acara talk show politik di salah satu televisi swasta) minggu ini ditampilkan bahwa orde saat ini adalah Orca (orde capek antri). Diperbandingkan dengan peroide I kepemerintahan kita (orla–orde lama) dan periode II kepemerintahan kita (orba–orde baru). Mengapa dikatakan demikian? Karena masyarakat/rakyat saat ini sedang mencapai/menuju titik didih ekonominya. Kita tidak bisa membayangkan apa/masih ada tidak sesuatu yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang tidak berpenghasilan tetap, seperti saudara kita Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawan swasta yang secara berkala mengalami kenaikan gaji pokok (gapok). Padahal kenaikan gapok tersebut selalu berkejaran dengan kenaikan karga kebutuhan pokok (ha kapok). -    Sementara mereka –mengambil istilah Bapertarum- Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), tidak selalu bernasib baik/beruntung mengalami kenaikan penghasilan tiap tahun. Alhasil untuk memenuhi kebutuhan energinya (MBR mengkonsumsi minyak tanah-mitan, bukan lpg-liquid petroleum gas-elpiji), mereka rela (?) antri beratus meter hanya untuk mendapatkan 1-5 liter mitan. Kondisi serupa belakangan terjadi juga dengan minyak goreng (migor) dan bensin. Hal ini mengingatkan kita pada masa-masa akhir kedua orde sebelumnya.
-    Apa yang sebenarnya terjadi? Banyak analisis mengemuka atas kondisi ini antara lain : proses konversi mitan ke lpg yang dilakukan pemerintah telah menyebabkan mitan langka. Pertanyaan kemudian menjadi bercabang, siapakah yang melangkakan mitan? Sebagian pihak berpendapat bahwa mitan langka akibat ulah spekulan/distributor karena pada tingkat pengecer suplai terus menyusut pada kurun waktu/periode sama. Tetapi analis lain berpendapat bahwa untuk keberhasilan konversi mitan ke lpg, maka mitan harus langka dan lpg tersedia. Nah, yang berkepentingan dalam klausul ini tentu saja adalah pemerintah dan beberapa pelaku bisnis per-lpg-an. Mengapa? Analisis ini diambil dengan perhitungan bahwa dengan naiknya harga minyak mentah dipasaran internasional (minggu ini mencapai seratus belasan dollar/barrel, padahal asumsi APBN-P harga dipatok 97 US $/barrel) hal ini akan menaikkan harga dasar mitan kita (BBM kita bukan produksi kita, kita hanya memproduksi bahan mentah (raw energy) dan untuk sampai pada bentuk yang kita konsumsi –mitan dan bensin- (BBM) bahan mentah tersebut harus diekspor untuk diolah dan diimpor (beli kembali) dalam kurs dollar pula. Sampai disini pertanyaan bisa bercabang kembali, tetapi sudahlah..
-    Sehingga dengan harga jual BBM saat ini, pemerintah telah mensubsidi sekian triliun dari cadangan APBN-P yang hanya 800-an triliun untuk subsidi energi. Berat memang bagi pemerintah untuk bertahan dalam kondisi ini. Opsi yang bisa diambil adalah :
1.    Menghapuskan/mengurangi subsidi atas energi yang pada akhirnya akan mengakibatkan kenaikan harga BBM, tetapi baru merupakan pemicu awal dari reaksi berantai atas krisis ekonomi baru dan pukulan langsung bagi sektor riil, suatu kebijakan pemerintah yang tidak populer, terutama jika dikaitkan dengan pemilihan presiden (pilpres) tahun depan.
2.    mengurangi konsumsi BBM, dengan smart card untuk bensin dan pertamax/pertamax plus dan konversi mitan ke lpg yang masih memiliki positive margin suatu pilihan yang lebih rasional.
-    Yang sekarang diambil pemerintah adalah opsi kedua, tetapi yang terjadi di lapangan sungguh diluar prediksi pemerintah. Kurang siapnya infrastruktur pendukung pelaksanaan kebijakan itu mungkin menjadi salah satu faktor segannya masyarakat untuk mendukung opsi kedua, diantaranya distribusi tangki lpg yang kurang merata, pembagian smart card yang tidak dibarengi dengan edukasi/informasi yang cukup pada masyarakat dan retailer (spbu-stasiun pengisian bahan bakar umum).
-    Masih adanya anggapan dari masyarakat bahwa menggunakan lpg lebih mahal dari memakai mitan, hal inilah yang belum diedukasikan dengan baik kepada masyarakat, sehingga alih-alih mau mengkonversi mitan ke lpg, mereka lebih memilih menggunakan kayu bakar, sabut kelapa dan lainnya untuk kebutuhan bahan bakar memasaknya.
-    Tetapi dilapangan masih saja terjadi antrean di pangkalan mitan dan spbu untuk mendapatkan BBM, begitu juga disisi migor, disinilah mengapa orde saat ini disebut ORCA. Sebagai masyarakat kita tidak bisa begitu saja menyalahkan pemerintah, kita yakin pemerintah saat ini sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan roda orde ini dengan sebaik-baiknya. Lihat saja pernyataan Menkeu Sri Mulyani beberapa saat yang lalu menyatakan bahwa APBN-P masaih tahan intuk mengimbangi melonjaknya harga minyak mentah dunia. Tentu saja karena jika pada satu sisi subsidi naik karena harga beli BBM naik, disisi lain harga jual minyak mentah dunia –dalam kurs dollar- juga naik, walaupun hal itu mungkin belum menyentuh positive margin. Tetapi sekali lagi APBN-P masih cukup volatil dan tidak akan disrupt menghadapi gejolak harga energi dunia.
-    Yang bisa kita lakukan sekarang adalah meningkatkan kreativitas kita masing-masing untuk menyiasati kondisi saat ini, misalnya pembatasan penggunaan BBM untuk kendaraan, memasak dan lainnya dengan berbagai cara, atau yang cukup berat –diperkotaan- menggunakan sumber energi alternatif misalnya kayu bakar, arang dan sabut kelapa sebagai bahan bakar memasak. Dapat juga diupayakan penghematan penggunanan listrik pada jam puncak untuk meningkatkan efisiensi energi, dengan mematikan lampu atau perangkat yang tidak perlu. Jika memungkinkan –tabung dan kompor lpg bersubsidi sudah tersedia, juga refillnya jika habis- dapat juga kita beralih ke lpg, seperti yang diyakinkan pemerintah bahwa menggunakan lpg lebih murah, aman dan bersih.
-    Karena apalagi yang bisa kita lakukan disaat sulit sekarang ini jika kita tidak mendukung kebijakan pemerintah yang kita pilih pada pilpres lalu, semakin kita kontra tidak mendukung/menyiasati kebijakan yang dijalankan, rasanya hidup jadi semakin sulit dan tidak produktif.
-    Semoga tata kepemerintahan yang baru –dengan personil lama, baru atau campuran- dengan niatan yang baik disertai kerja keras dan kesungguhan, dapat menciptakan kondisi perekonomian yang baik bagi seluruh warga negara republik indonesia yang kita cintai ini. Kita harus optimis dengan kesungguhan, karena tanpa optimisme yang tinggi tujuan dan rencana besar yang baik sekalipun tidak akan tercapai!
-    Bravo indonesia.
MUHAMMAD BS /masyarakat kata
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

 
< Prev   Next >



Lambar_Menarik

 Radio FM Swarapraja
Radio Swara Praja

 Lampung Barat di Wikipedia
Lampung Barat di Wikipedia

 Paksi Buay Pernong Paksi Pak Skala Brak
Buay Pernong


BeguaiJejama Tahun 2009
BeguaiJejama Tahun 2009
Saat ini 18 pengunjung online


Lampung Barat © 2009 Tentang Situs | Link | RSS