 |

|
Damar dan Cara Masyarakat Krui Melestarikan Lingkungan Hidup |
Fajarmulai menyingsing ketika seorang laki-laki di usia 30-an memanjat DamarPinus, membawa sebuah keranjang rotan di bahunya. Ia menaiki pohon itubegitu cepat, menggunakan tali dari rotan, dengan hati-hati iamemeriksa setiap potongan pada pohon untuk mendapatkan getahnya. Saatmenemukan getah yang mengental, getah yang sudah kering, iamengambilnya dan menaruh potongan-potongan itu ke dalam keranjang.Aktivitas seperti itu merupakan pemandangan umum di desa Pahmungan,Krui, Lampung Barat.
Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan
laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Damar Pinus (Shorea javanica)
telah diolah di Krui sejak ratusan tahun yang lalu. Kawasan alami pohon
damar telah dikenal di luar negeri sudah sejak lama. Para penguasa
Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk
memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan
kosmetik sebagaimana yang dijelaskan Oyos Saroso HN.
Hingga kini, masyarakat Krui terus melindungi warisan mereka, nuansa hijau
pepohonan Damar Pinus mengisi bukit dan peternakan di wilayah pesisir.
Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan repong damar mempunyai hukum
adat untuk melindungi Damar Pinus. Pohon Damar Pinus tidak boleh
ditebang dan setiap orang yang melanggar hukum tersebut menerima
hukuman dalam bentuk penanaman pohon Damar baru, Bahkan setiap orang
yang akan menjadi calon pengantin harus menanam pohon sebelum menikah.
Beberapa orang Krui bahkan percaya bahwa mereka dapat berbicara dengan
Damar pinus. Selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada
anak-anak mereka, “jika Anda butuh uang untuk membayar biaya sekolah
anak-anak Anda, berbicaralah dengan pohon Damar”.
Pengamat
budaya Lampung Anshori Djausal mengatakan bahwa adat tidak memiliki
makna denotative, Itu jelas merupakan sebuah pesan kepada anak-anak
Krui untuk terus menjaga dan melindungi pohon Damar, dan itu telah
terbukti berhasil. banyak orang Krui telah sukses dan memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi sejak orang tua mereka membudidayakan Damar
Pinus. Pohon-pohon adalah sumber utama pendapatan bagi masyarakat Krui.
Setiap minggu, para petani mengumpulkan getah dan ketika mereka telah
merasa cukup, mereka menjualnya ke pengumpul.
Ancaman terhadap perkebunan repong damar datang pada saat pembukaan
perkebunan kelapa sawit yang mengabaikan hukum adat. Pada akhir tahun
1980-an, banyak pohon Damar yang ditebang untuk membuka perkebunan
kelapa sawit, dan para penebang liar mencuri kayu Damar Pinus dengan
mencampurkannya dengan kayu biasa sehingga polisi tidak menghentikan
mereka, karena mereka tidak menyadari para penebang liar telah
mencampurnya dengan kayu ilegal Damar pinus. Namun bagaimanapun juga
para penduduk desa di desa Pahmungan tetap memegang teguh tradisi
mereka dalam melindungi Damar Pinus, puluhan desa lainnya di Lampung
Barat juga masih menjunjung tinggi tradisi yang sama.
Husin, seorang penduduk desa Pahmungan berusia 57 tahun, memelihara
beberapa pohon Damar di perkebunannya, yang merupakan warisan dari
nenek moyang mereka yang telah dimiliki sejak zaman penjajahan Belanda.
“Semakin banyak sesorang memiliki repong Damar, maka semakin tinggi
pula status sosial yang dimilikinya,” ujar Husin. Menurut data dari
administrasi Kabupaten Lampung Barat, saat ini terdapat sekitar 17.500
hektar repong damar di daerah, terutama di daerah pesisir, dengan 1,7
juta pohon. Pohon-pohon yang tumbuh terutama oleh masyarakat desa,
menghasilkan sekitar 315 ton getah per tahun, yang sebagian besar
diekspor ke Bangladesh, India, Italia, Pakistan dan Arab Saudi.
Orang-orang krui tidak hanya mengisi perkebunan Pinus mereka dengan
pohon Pinus saja, mereka mengkombinasikan dengan pohon buah-buahan
seperti durian, langsat dan lain-lain.
Kurniadi
aktivis lingkungan hidup, yang bekerja sama dengan petani repong damar,
mengatakan bahwa secara ekologis, keberadaan petani Damar Pinus
tradisional memiliki nilai tinggi. Selain sebagai daerah resapan air,
repong damar juga berfungsi sebagai daerah penyangga bagi upaya
konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Pada tahun 1997, Pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada
masyarakat krui, atas komitmen mereka terhadap kelestarian Damar Pinus
melalui hukum adat.
Kurniadi mengatakan bahwa bagi masyarakat Krui, repong damar lebih dari
sebuah sumber pendapatan. “Ada ikatan yang kuat antara masyarakat Krui
dan repong damar, Itu adalah identitas mereka, “katanya. Peneliti dan
aktivis lingkungan hidup mengatakan, keberlanjutan repong damar di Krui
adalah contoh harmoni antara manusia dan alam.
Melestarikan repong damar tidaklah mudah bagi masyarakat Krui.
Beberapa diantara merek telah tergoda untuk menjual perkebunannya untuk
mendapatkan uang untuk membeli peralatan rumah tangga yang modern.
Zulfaldi, salah satu eksekutif dari Pemilik Asosiasi Repong Damar,
mengatakan bahwa tanpa pengawasan, repong damar mungkin akan lenyap.
Datangnya budaya modern, suka atau tidak, telah menggoda anak-anak muda
di Krui untuk bekerja di kota-kota besar dan industri dan meninggalkan
repong damar,” ujar Zulfaldi. Dia mengatakan bahwa asosiasi ini bekerja
sama dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan kualitas Damar untuk
membantu penambahan harga jualnya. “Kami sedang berusaha untuk
menaikkan harga jual Damar dengan sebuah proses yang dapat memperbaiki
kualitas getah yang rendah,” katanya.
Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pusat Riset Kehutanan
Internasional menunjukkan bahwa dengan harga jual sekitar Rp 4.000 per
kg, petani Damar bisa memperoleh sekitar Rp 10 juta setahun. Jumlah itu
tidak termasuk dengan hasil panen pohon-pohon lain yang tumbuh diantara
perkebunan Damar tersebut. Panen repong damar dapat memberikan
pendapatan yang relatif baik.
Nur Alipin, seorang petani Damar berusia 63 tahun di Pahmungan
mengatakan, harga tertinggi terjadi pada tahun 1998, getah Damar bisa
mencapai harga Rp 8000 per kilogram. Menurutnya, Idealnya harga
berdasarkan pertimbangan biaya produksi, harga minimal harusnya Rp
15.000 per kilogram. Jika kalaa itu satu kilogram getah Damar dapat
membeli tiga kilogram beras, namun lain halnya sekarang, harga satu
kilogramnya bahkan lebih kecil dari harga beras.
Sumber http://arthaliwa.wordpress.com/ |
|
 |